Permainan Tradisional Mulai Jauh dari Anak-anak


PadangKini.com | Selasa, 11/3/2008, 11:11 WIB

Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/ PadangKini.com

TIGA sekawan itu, Putri Widiasani, Rini Tiar Lina, dan Erna Dewita keasyikan bermainan  ‘bakiak’. ‘Bakiak’ adalah terompah deret dari papan bertali karet yang panjang. Sepasang ‘bakiak’ minimal memiliki tiga pasang sandal atau dimainkan tiga anak.

Agar ketiga gadis muda 11 tahun yang duduk di kelas VI SD Negeri 18 Padangpanjang, itu bisa berjalan dengan ‘bakiak’, mereka memerlukan kekompakan. Jika tidak kompak, satu langkah saja salah seorang bisa terjatuh, akibatnya dua temannya juga bisa ikut terjatuh.

“Sukaaa….!” kata mereka serentak ketika ditanya apakah ketiganya suka permainan tersebut, saat dilihat mondar-mandir jatuh-bangun memainkan bakiak di halaman Museum Negeri Adityawarman di Padang.

“Bakiak” sebenarnya permainan tradisional anak-anak di Sumatera Barat. Orang Minang kelahiran hingga pertengahan 1970-an biasa memainkannya dan ketika acara 17 Agustusan mengikuti perlombaan di desa atau kecamatan. Tapi anak-anak kelahiran setelah itu hampir tidak mengenal lagi, karena jarang digunakan.

Tahun lalu pernah dipamerkan aneka permainan anak-anak tradisional di Museum Adityawarman, Padang. Dua anak laki-laki yang berkunjung memegang dua belahan batok kelapa yang dikaitkan dengan seutas tali. Lalu mereka masing-masing memasang ke telinga dan mulut, menjadikannya sebagai mikrofon kaleng.

Kedua anak itu tidak tahu itu adalah terompah batok kelapa, tapi mereka jadikan telepon. Padahal, permainan tradisional itu sebenarnya dulu biasa dimainkan anak-anak di Sumatera Barat dengan nama ‘tarompa galuak’.

Dianggap Kuno
Ayu Sutarto, peneliti tradisi dari Universitas Negeri Jember menilai, kondisi sekarang telah meminggirkan permainan tradisional atau permainan lokal dari anak-anak Indonesia.

“Permainan anak-anak tradisional sekarang hanya dimainkan di desa-desa yang sangat terpencil, sudah sangat jarang… sekarang anak-anak kita tergila-gila dengan playstation atau komik jepang, dan televisi menyerap perhatian anak-anak 24 jam,” katanya pada suatu kesempatan di Padang.

Padahal, kata Sutarto, permainan tradisional ini merupakan potensi bangsa, namun terabaikan.

“Sebab dianggap sebagai produk budaya lokal yang tidak ada apa-apanya, yang kuno dan sebagai produk masyarakat agraris saja…, nah ini mesti menjadi kesadaran kita ada sesuatu yang salah dengan bangsa ini…” katanya.

Menurut Sutarto, produk-produk lokal nusantara yang dalam beberapa hal memiliki keunggulan menjadi terpinggirkan. Padahal, dalam permainan anak-anak misalnya, selain memiliki aspek rekreatif juga kekeluargaanm gotong-royong, toleransi.

“Permainan ini bisa menjadi perekat sosial dalam kehidupan anak-anak nusantara, karena ketika bermain mereka bisa melebur meski dari berbagai suku bangsa,” ujarnya.

Poppy Savitri, Kepala Sub-Direktorat Kearifan Lokal dan Foklor, Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mengatakan, Indonesia memiliki ratusan macam permainan anak-anak tradisional, namun belum ada data base yang mutakhir tentang itu.

“Dulu ketika masih 27 provinsi sudah ada buku inventarisasi permainan anak, sekarang belum diperbarui, saya yakin masih banyak yang belum tercatat, sebab Indonesia memiliki banyak suku bangsa yang di dalamnya ada lagi sub suku bangsa, permainannya kadangkala serupa, tapi tidak sama nama atau cara memainkannya,” katanya.

Savitri berharap anak-anak kembali mengenal permainan tradisional dan bisa menyenanginya.

“Untuk memainkan permainan tradisonal membutuhkan lahan dan sosialisasi oleh pemerintah daerah, sekarang di kota jarang ada lahan untuk bermain bagi anak-anak, ini perlu kepedulian kita bersama, pemerintah-pemerintah daerah perlu memperhatikan ini,” kata Savitri.

~ by cuilicious on May 30, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: